0
Tanaman Cannabis tumbuh secara alami di Kamboja, negara tropis dengan penduduk berjumlah 15 juta orang. Mereka sudah mengetahui ganja sejak lama sebagai bagian dari tradisi masyarakat yang digunakan untuk bumbu hidangan sup tradisonal. Pada tahun 1990an ketika perang merobek-robek negara Kamboja, ganja diperdagangkan secara terbuka. Pedagang di pasar pusat kota Phnom Penh bisa menjual ganja lebih dari sekilo secara bebas. 


Tapi di tahun 2000-an ketika Amerika Serikat dan negara-negara barat lainnya mulai berdatangan ke Kamboja dengan membawa bantuan, pemerintah tiba-tiba menganggap ganja sebagai gangguan dan menghapusnya dari pandangan publik.

"Amerika Serikat memberi mereka ultimatum," kata seorang analis narkoba dari PBB. Mereka mengatakan, “Kamboja silahkan pilih, mau dapat bantuan luar negeri atau tetap bebas menggunakan ganja?”

Sekarang, supir "tuk-tuk" (kendaraan bermotor seperti bemo/bajaj) adalah pemandu wisata di Phnom Penh untuk turis yang mau membeli ganja. Seperti di negara tetangganya Thailand dan Laos, supir tuk-tuk sering bertindak sebagai perantara antara wisatawan untuk mendapatkan: pelacur, ganja atau narkotika kelas berat (heroin/shabu).


Setiap hari para supir tuk-tuk memarkir kendaraan mereka dan mulai bekerja menawarkan jasanya. Beberapa dari mereka mengiklankan dirinya dengan melambaikan tangannya dan berkata, “masih harum,” kadang mereka sedikit merokok ganja sambil mendekati hidung turis agar tercium aromanya. Secara terang-terangan mereka bertukar uang dollar AS dengan satu paket bungkusan yang disebut "skunk," yaitu nama jenis ganja yang dibudidayakan dengan kualitas yang lebih tinggi dari ganja yang biasanya beredar.

Chhon, seorang yang berbadan gemuk, usia sekitar 30-an adalah penjual ganja keliling di pusat kota Phnom Penh. "Saya hanya menanyakan kepada penumpang tuk-tuk saya apakah ia ingin sesuatu, kemudian saya akan berbicara tentang ganja," kata Chhon. "Banyak orang yang menginginkan ganja. Polisi tahu apa yang kita lakukan. Jika polisi menangkap anda, mereka hanya meminta sedikit uang dan tidak menangkap mu."

Walaupun demikian bukan berarti otoritas di negara Kamboja tidak berbicara keras mengenai ganja. Pada tahun 2008, Drug Czar (penggiat anti narkoba) secara nasional mendeklarasikan diri mereka di beberapa wilayah di Kamboja. The Mekong Times, menulis, "Ganja tidak lagi tersedia di Kamboja" setelah dikumandangkannya kampanye pemberantasan ladang ganja.

Pernyataan pemerintah yang menegaskan mengenai peredaran ganja terlihat sangat berani tetapi absurd, tidak masuk akal.

Selama empat tahun berturut-turut, Kamboja belum pernah melaporkan hasil penangkapan atas kepemilikan ganja di negaranya ke database narkotika regional PBB. Pada tahun 2008, pihak berwenang melaporkan hanya enam kasus penangkapan terkait ganja.

Upaya pemberantasan tanaman ganja di Kamboja sepertinya sangat lemah lembut. Dalam kurun waktu tahun 2008, ditengah-tengah Drug Czar yang sedang memproklamirkan untuk mengakhiri tanaman ganja di Kamboja, polisi narkoba di negara itu hanya memberangus 177 meter persegi ladang ganja, kira-kira ukurannya sama dengan luas sebuah apartemen kecil dengan tiga kamar tidur. Bahkan bila dibandingkan dengan angka pemberantasan terbaru pada tahun 2011, hanya 200 batang tanaman ganja yang dihancurkan pemerintah.

"Kami telah memperhatikan dalam lima atau enam tahun terakhir ini, kualitas pelaporan dari Kamboja menurun," kata Tun Nay Soe, seorang perwira senior dengan program SMART dari PBB, yang memonitor tren penggunaan narkoba secara global. "Kami tahu mereka memiliki perkebunan ganja yang ditanam secara komersial. Tapi jenis narkoba metamfetamin (shabu/extacy) jauh lebih bermasalah di sana. "

Chhon agak bingung dengan apresiasi yang mendalam pada tanaman ganja dari para turis muda dari luar negeri. Menurut sebuah survei PBB, ganja adalah narkoba yang paling populer nomor empat di Kamboja: Shabu (crystal methamphetamine) dan jenis narkoba lain yang dihirup merupakan jenis yang paling banyak dikonsumsi disana.

"Ganja tidak begitu menguntungkan untuk orang Kamboja," kata Chhon. "Kebanyakan turis kaya yang datang lebih menginginkan Shabu."

Asia Tenggara terkenal dengan peredaran shabu yang terus populer dari tahun ke tahun. Shabu lebih keras efeknya dan membuat orang jadi suka gelisah dan sering mengakibatkan kecelakaan, berbeda dengan ganja yang membuat orang jadi tinggi dan sama sekali tidak berbahaya. Sayangnya sekarang ganja diklasifikasikan sebagai suatu zat yang menjadi ancaman di kawasan wilayah Kamboja.

Meskipun pemerintah Kamboja tidak secara terus terang mengakui larangan ganja, namun sikap Washington tidak pernah benar-benar menentang.

"Peningkatan penggunaan ganja di negara Kamboja sejauh ini tidak jelas, sebab secara tradisional sebagian masyarakat menoleransi konsumsi ganja," demikian dinyatakan Otoritas Nasional Penanggulangan Narkoba dalam laporan tahunannya.

Ini "konsumsi tradisional," makanan dihidangkan dengan ditaburi ganja di atas piring. Hal seperti ini juga terjadi di tempat-tempat yang terkenal dengan hukum yang sangat ketat, seperti di wilayah penduduk komunis di Laos dan wilayah Aceh di Indonesia, yang dikendalikan dengan hukum Syariah Islam.

"Bahkan di Myanmar, sudah menjadi hal yang biasa mencampurkan ganja ke dalam makanan mereka sebagai bumbu," kata Tun Nay Soe.

Apakah Kamboja dan negara lainnya yang ketergantungan bantuan dari Amerika Serikat akan terus menjaga “sandiwara” anti ganja mereka? Semua tergantung pada apakah negara-negara tersebut berani melawan pengaruh dari rezim pelarangan tersebut. Seperti pejabat pemerintahan di Meksiko dan negara-negara Latin lainnya, yang merupakan target utama dari perang narkoba internasional yang dimotori Amerika Serikat, mereka berani untuk melonggarkan hukum kepemilikan ganja di negaranya dan menjadikan negara-negara bagian di AS yang sudah melegalkan ganja sebagai lahan bisnis penjualan ganja hasil panen mereka.

"Hampir disemua wilayah negara di dunia mengalami kegagalan atas hukum kriminalisasi dan pendekatan kekerasan pada penanganan kasus narkoba," kata Gomis. "Hal seperti ini justru menciptakan pasar gelap yang lebih besar. Ini menciptakan lebih banyak kekerasan. "

Tapi Chhon tidak suka dengan dengan masa depan hukum kepemilikan ganja di Kamboja. Setelah semua campur tangan AS, penjualan ganja yang tadinya dijual dipasar resmi kemudian beralih kejalanan. Sebelum pelarangan ganja diproklamirkan, Chhon memperoleh pendapatan sekitar $ 20-25. Namun setelah hukum pelarangan ganja dipraktekkan di Kamboja, ia bisa menjual satu paket ganja seharga $ 40, jumlah yang sangat mahal untuk turis asing.

"Sekarang di Kamboja anda masih dapat membeli ganja, anda tetap bisa menghisap ganja dan tidak ada masalah," katanya. Pesan saya hanya, “Just stay away from the street and don’t be stupid.” (cpt)

Poskan Komentar Blogger

Silahkan tinggalkan komentar Anda. Komentar yang baik akan membantu pembaca lain dalam memahami maksud dari artikel di atas.

Terima kasih telah mengomentari artikel ini.

 
Top